CHAIRIL ANWAR
Halo fellas !!!! Kali ini kita akan bahas tentang salah satu penyair
legendaris. Siapa tuuuuhhhh ? pasti udah tau lah dari judul biografinya.
Yappppp !! Chairil Anwar adalah seorang penyair legendaris berdarah Minangkabau
yang dikenal juga dengan sebutan “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya
yang berjudul aku). Ia berasal dari pulau Sumatra Utara waaa jauh yaaa. Chairil
Anwar lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan. Dan meninggal pada tanggal 28
April 1949 di Jakarta. Sebagai bentuk keabdian karyanya, ia yang sudah
meninggal tetap dianugerahi sebuah penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB)
Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima oleh
putrinya yang bernama Evawani Alissa Chairil Anwar.
Tahukan
fellas ternyata Chairil Anwar merupakan anak tunggal dari pasangan Toeloes dan
Saleha. Ayahnya berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatera Barat
sedangkan ibunya berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Ayahnya merupakan mantan
Bupati Kabupaten Indragiri Riau. Dan ternyata dia masih mempunyai pertalian
keluarga dengan Sutan Sjahrir Perdana Menteri pertama Indonesia.
Oh
iya sewaktu kecil Chairil Anwar bersekolah di Hollandsch-Inlandsche (HIS) , sekolah dasar untuk pribumi waktu
penjajahan Belanda. Kemudian ia melanjutkan untuk bersekolah di Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO),
sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dan
disaat remaja ia baru belajar menulis puisi. Pada usia 19 tahun, setelah
perceraian kedua orang tuanya ia tinggal bersama ibunya di Jakarta, dan mulai
berkenalan dengan dunia sastra. Meski pendidikannya tidak selesai, namun dia
menguasai Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, dan Bahsa Jerman hebat ya fellas
seorang Chairil Anwar ini, mempunyai banyak sekali kelebihan dalam bidang
bahasa. Ia juga sering mengisi waktu luangnya dengan membaca karya-karya
pengarang internasional yang ternama, seperti : Rainer M. Rilke,W.H. Auden,
Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Tentu saja
penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung
mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
Tak
banyak yang tahu fellas tentang masa kecilnya Chairil Anwar. Ternyata ia sangat dekat dengan
neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan pada hidupnya. Dalam hidupnya yang
jarang berduka, salah satu kepedihan
terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu
dalam sajak. Tetap ya fellas, ia mengungkapkan kesedihannya dalam hal-hal yang
romantis.
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia
sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada
saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia
tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di
Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya
Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya kasihan ya fellas, kasih tak sampai jatuhnya jadi
bucin gitu bang Chairilnya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama
masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.
Yang
bikin worth it adalah puisi-puisinya masih
digemari hingga saat ini, waaaaahhhhh keren sekali ya bang Chairil Anwar ini
hehe. Salah satu puisinya yang paling terkenal
sering dideklamasikan berjudul Aku ( “Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!”).
Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa
Indonesia lho. Ia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang”
dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946).
Menurutnya wanita merupakan dunia kedua setelah buku.
Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis
yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi
Chairil, duh romantis ya fellas abang
ini. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah,Chairil melabuhkan cintanya. Namun
sayangnya nih fellas pernikahan itu
tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang
tak berubah, akhirnya Hapsah meminta cerai ketika anaknya berumur 7 bulan,
Chairil pun menjadi dudaL.
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah
diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang
semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena
sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC.
Ia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi
oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu
diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Ia meninggal di Jakarta, tanggal 28
April 1949.
Sumber :

Komentar
Posting Komentar