LIR-ILIR, TEMBANG SARAT MAKNA
|
S
|
iapa yang tidak kenal dengan tembang lir-ilir ? Tembang lir-ilir merupakan
tembang yang sudah mengakar dan dikenal masyarakat jawa dan nusantara. tembang
ini diciptakan dan digunakan oleh sunan Kalijaga untuk berdakwah menyebarkan
agama islam di pulau jawa. dalam tembang ini, sunan kalijaga menggunakan kata-kata
biasa yang menggambarkan keriangan dunia anak-anak namun memiliki maksud
mengajarkan agama islam. Tak heran kalau masyarakat sangat senang dan tertarik
untuk melantukan tembang ini.
Sunan Kalijaga sendiri merupakan salah satu wali songo yang
terkenal menyebarkan agama islam. Beliau lahir pada tahun 1455 Masehi, pada
waktu mudanya bernama Raden Mas Said atau Jaka Said. Ayahnya bernama Arya
Wilatikta, Adipati Tuban keturunan dari tokoh pemberontak Majaphit, Ronggolawe.
Sunan Kalijaga sangat toleran terhadap budaya lokal. Beliau berpendapat bahwa
masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka masyarakat harus
didekati secara bertahap demi tahap, prinsipnya mengikuti sambil mempengaruhi.
Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya
kebiasaan lama akan hilang. Beliau selalu memperkenalkan agama secara luwes
tanpa menghilangkan adat-istiadat/kesenian daerah yang telah ada sebelumnya.
Beliau terkenal dengan dakwahnya yang ajarannya terkesan sinkretis dalam
mengenalkan islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara
suluk. Seni suara suluk karya Sunan Kali Jaga yang terkenal salah satunya
adalah tembang Lir-ilir.
Tembang
Lir-ilir diawali dengan kata Lir ilir yang artinya ngelilir (bangunlah),
bangunlah atau bisa diartikan sebagai sadarlah. Kita diminta bangun dari
keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk mempertebal keimanan yang telah
ditanamkan oleh tuhan yang maha esa dalam diri kita, karena itu digambarkan
dengan Tandure wus sumilir atau tanaman yang mulai bersemi dan
pohon-pohon yang mulai menghijau bagaikan Tak ijo royo-royo. Semua itu
tergantung pada diri kita masing-masing, apakah mau tetap tidur dan membiarkan
tanaman iman kita mati atau bangun dan terus berjuang untuk menumbuhkan tanaman
tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagian seperti bahagianya pengantin
baru atau Tak sengguh temanten anyar.
Cah
angon - Cah angon atau anak gembala, yang artinya kita telah
diberi sesuatu oleh tuhan yang maha esa untuk kita gembalakan yaitu
"HATI", bisakah kita gembalakan hati kita ini dari dorongan hawa
nafsu yang demikian kuatnya, si anak gembala diminta untuk memanjat pohon
belimbing atau Penekno blimbing kuwi yang notabene buah belimbing itu
bergerigi lima buah, dalam hal ini sebagai gambaran dari disuruh untuk
menjalankan Sholat 5 waktu, dan Lima Rukun Islam.
Pohon
belimbing itu memang licin dan meskipun dalam keadaan susah untuk
melaksanakannya, kita harus bisa memanjatnya sekuat tenaga yang artinya kita
tetap berusaha menjalankan sholat 5 waktu / Rukun Islam apapun halangan dan
resikonya bagaikan Lunyu-lunyu penekno. lalu apa gunanya semua ini?
semua ini berguna untuk mencuci badan kamu atau Kanggo mbasuh dodotiro
(dada kamu) yang bermakna bahwa badan itu yang harus di bersihkan dari segala
macam dosa.
Dodotiro,
Dodotiro yang berarti adalah badan kamu harus di
bersihkan dari dosa. Namun sebagai manusia biasa badan kamu terkadang banyak
lukanya (badan yang masih banyak dosa) sehingga perlu obati bagaikan Dondomono,
Jlumatono agar menjadi badan yang sehat (bersih dari dosa). Kanggo
sebo mengko sore atau untuk menghadapi nanti sore, kata ini mempunyai makna
bahwa suatu saat kita semua pasti akan mati, karena itu kita selalu diminta
untuk membersihkan badan kita dari dosa, agar kelak kita siap ketika dipanggil
menghadap kepada tuhanyang maha esa, karena kematian atas semua makhluk hidup
adalah rahasia dariNya, dan kita bisa dipanggil atau mati kapan saja.
Mumpung
padhang rembulane, Mumpung Jembar kalangane atau selagi
rembulannya masih terang dan selagi banyak waktu luangnya atau banyak
kesempatan, kata-kata ini mengandung arti bahwa ketika pintu hidayah masih
terbuka lebar, dan ketika masih banyak kesempatan karena diberi umur yang masih
menempel pada hayat kita maka pergunakanlah waktu dan kesempatan itu untuk bisa
membersihkan diri dari segala macam dosa agar senantiasa selalu bertaqwa kepada
Tuhan yang maha esa. Selanjutnya Yo surako surak iyo atau bersoraklah
dengan sorakan iya untuk menyambut seruan ini dengan sorak sorai, ketika kita
masih sehat dan mempunyai waktu luang. Jika ada yang mengingatkan, maka
jawablah dengan "Iya". Setelah kita melaksanakan semua itu maka kita
akan bergembira atau senang dan bersorak.

Komentar
Posting Komentar